Rabu, 16 April 2008

Prefere

Jasa Layanan Perpustakaan (Fasilitas)

Perpustakaan Memberikan Hiburan

Perpustakaan ini menyediakan berbagai pilihan buku, baik lokal maupun impor, untuk pembaca dari berbagai kalangan usia. Ini memang sesuai dengan misi edukatif yang disandang Perfere 72. Dengan menggabungkan Kafe dan Perpustakaan dapat menjadi sarana hiburan alternatif yang mendidik bagi keluarga dan pengalaman rehat yang berbeda di tengah kesibukan kota Bandung.

Dilihat dari luar, tampak ada dua model bangunan. Model baru dan lama. Bangunan utamanya berarsitektur klasik, digabungkan dengan bangunan baru di sebelah kanan yang berarsitektur minimalis. Bangunan baru dibuat bertingkat membuat total are Prefere 72 cukup luas. Berbagai ventilasipun ada di Prefere 72 untuk meberikan agar pengunjung dapat menghirup udara segar Bandung. Kesan luas itu makin terasa bila kita masuk ke dalam. Karena terdapat berbagai ruangan untuk para pengunjung yang digolongkan dengan pengunjung yang merokok dan yang tidak merokok. Prefere yang memiliki lokasi cukup strategis, karena terletak di daerah Dago-Bandung dan berada ditengah-tengah beberapa Factory Outlet (FO).

Selain itu kenyamananpun saya dapatkan di Prefere karena peratalan meuble yang diberikan membuat saya betah berlama-lama di Prefere, saya diberikan pilihan tempat sesuai dengan memilih duduk di sofa empuk dekat snack corner, atau di bangunan tua yang tenang sambil membaca buku, atau duduk-duduk sambil menikmati musik di lantai bawah. Peminjaman buku untuk dibawa pulangpun bisa kita dapatkan.

Kelompok pengguna perpustakaan memang tidak digolongkan secara khusu di rak-rak buku. Akan tetapi Prefere memiliki berbagai koleksi buku berdasarkan usia, dari kelompok usia anak-anak sampai kelompok usia dewasa atau usia lanjut. Perpustakaan yang terdapat di Prefere juga mempunyai koleksi buku berdasarkan kelompok pendidikan. Seperti kelompok berdasarkan hobby dan jenis kelamin.

Peranan seorang pustakawan juga dipunyai oleh Prefere untuk merawat buku-buku dan menyajikan berbagai informasi. Tentunya Prefere memiliki layanan administrasi demi kelancaran, ketertiban, dan peningkatan mutu. Untuk menjaga kualitas dan ketertiban perpustakaan Prefere memberlakukan beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh para pengunjung perpustakaan Prefere, yaitu mengisi daftar yang sudah disediakan untuk pengunjung yang membaca ditempat, dibebaskannya para pengunjung untuk mencari buku di rak atau meminta bantuan pada petugas, tidak diperkenankan mencoret halaman buku, dan mengganti buku yang hilang atau rusak.

Prefere memiliki jadwal perfomance rutin. Setiap Jumat malam, pukul 19.00-23.00 tampil musisi jazz. Sedangkan setiap Sabtu pukul 20.00-23.00 tampil kelompok musisi akustik. Suasana paling asyik saat permainan musik yang tidak banyak menggunakan instrumen berat. Suasana Cafe dan library jadi semakin nyaman, bukan berisik atau hingar bingar seperti cafe pada umumnya.


Dampak Media Massa

MAKALAH

DAMPAK SOSIAL MEDIA MASSA DALAM KEHIDUPAN KAULA MUDA DI INDONESIA


A. Media Massa di Indonesia Saat Ini

Perkembangan media massa bagi manusia sempat menumbuhkan perdebatan panjang tentang makna dan dampak media massa pada perkembangan masyarakat di Indonesia. Pemahaman tentang masyarakat massa sempat menggoncang persepsi anggota masyarakat mengenai dampak media massa yang cukup signifikan dalam merubah tata sosial masyarakat.

Dalam perkembangan teori komunikasi massa, konsep masyarakat massa mendapat relasi kuat dengan media massa yang pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana proses komunikasi dalam konteks masyarakat massa membentuk dan dibentuk oleh media massa yang ada.

Bukan kebetulan bahwa dua pemahaman tentang masyarakat massa dengan media massa mempunyai titik permasalahan yang menggantung. Pertanyaan kritis yang perlu ditampilkan adalah sejauh mana hubungan antara masyarakat massa dengan media budaya massa yang ada ? Apakah memang di antara dua konsep tersebut mempunyai hubungan antar entitas yang berdiri sendiri atau memang dua konsep itu mempunyai hubungan yang saling berkaitan erat ?

v Teori masyarakat massa dan fungsi media massa

Sebelum masuk pada tesis utama teori masyarakat massa dan fungsi media massa, perlu diketahui terlebih posisi masing-masing teori yang mengembangkan persepsi tentang masyarakat massa dan fungsi media massa yang ada.

Dalam mempertimbangkan teori tradisional, tekanan tema utama dalam teori ini adalah bahwa ada posisi media dalam sebuah masyarakat. Di satu pihak, teori tradisional mengenai masyarakat massa dan media massa melihat secara pesimis, dalam arti bahwa media massa mempunyai pengaruh yang kuat dalam seluruh konteks sistem pengaruh pada masyarakat. Modernisasi dengan media massa sebagai salah satu perkembangan modern yang cukup signifikan ternyata memberikan pengaruh negatif dan positif bagi perubahan sosial.

Kenapa dapat dikatakan bahwa media massa berpengaruh besar tehadap masyarakat massa. Karena media massa memiliki peranan yang sangat penting dijaman global seperti sekarang dalam semua aspek kehidupan. Tapi tidak semua dampak media massa itu positif terhadap masyarakat Indonesia atau bahkan masyarakat diseluruh dunia, Berikut dampak-dampak dari media massa.

Dari pemahaman seperti itu, terlihat bahwa media massa berperan untuk membentuk yang dihasilkan sebagai salah satu akibat pengaruh media terhadap sistem nilai, pikir dan tindakan manusia. Pada titik tertentu, masyarakat massa mengembangkan sistem media massa. Dalam konteks yang hampir sama, terlihat dua ragam budaya massa yang bisa dihasilkan oleh masyarakat. Di satu pihak, budaya dalam konteks masyarakat massa dengan didukung oleh media massa dilihat sebagai entitas cair dan mampu menghegemoni sebuah masyarakat (terlihat bagaimana media mampu membentuk selera masyarakat atau membentuk cara pandang tertentu terhadap sebuah realitas, dll). Hal-hal di atas yang membuat kita harus memahami masyarakat massa , fungsi media massa dan budaya massa sebagai proses timbal balik.

v Implikasi Teori Sosiologi

Beberapa kajian sosial mengenai dampak media massa dalam sebuah masyarakat membuat persepsi baru bahwa media massa, masyarakat, dan budaya massa secara simultan saling berhubungan satu sama lain. Corak hubungan faktor-faktor di atas bersifat “interplay”. Tentu saja perubahan makna sosial tersebut juga dipengaruhi oleh perkembangan sosial baru dalam era globalisasi. Dalam proses ini ada beberapa pertimbangan yang perlu dilihat.

Pertama, perkembangan media sampai pada satuan kecil masyarakat membuat kita harus membuat sikap baru dan lebih kompleks terhadap terminologi-terminologi sosial tradisional yang diyakini oleh masyarakat.

Kedua, perkembangan media massa baru seperti televisi sempat mengubah persepsi sosial masyarakat karena pengaruhnya yang sedemikian dahsyat. Bahkan dapat dikatakan bahwa televisi mampu menjadi sentra kehidupan sosial meski tidak menutup kemungkinan bahwa media cetak juga tetap mempunyai kekuatan yang cukup signifikan dalam masyarakat.

Masyarakat modern bersifat cair dan mobile. Pemahaman tentang ini juga akan mempengaruhi keseluruhan sikap yang diambil dalam proses perkembangan budaya masyarakat itu sendiri.

B. Peranan Media Massa (Televisi) dalam Kehidupan Sosial Kaula Muda (Remaja dan Anak-anak) di Indonesia

Media literasi adalah sebuah perspektif atau cara pandang kita terhadap media dan cara kita menginterpretasikan makna dari sebuah pesan yang kita terima. Kita membangun sebuah perspektif berdasarkan ilmu pengetahuan yang kita punya.

Media Literacy di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Melek Media. James Potter dalam bukunya yang berjudul “Media Literacy” (Potter, 2001) mengatakan bahwa media literasi adalah sebuah perspekif yang digunakan secara aktif ketika, individu mengakses media dengan tujuan untuk memaknai pesan yang disampaikan oleh media. Jane Tallim menyatakan bahwa media literacy adalah kemampuan untuk menganalisis pesan media yang menerpanya, baik yang bersifat informatif maupun yang menghibur.

Faktanya televisi (TV) yang memuat banyak jenis film kini telah menjadi keniscayaan dalam masyarakat. Kehadirannya juga membawa dampak positif dan negatif. Di satu sisi, masyarakat dipuaskan oleh tayangan hiburan ataupun informasi. Tetapi di sisi lain, TV dikecam karena tayangan yang kurang bisa diterima masyarakat atau individu tertentu.

Gambar bergerak (film) adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di belahan dunia ini. Seperti halnya salah satu dari bentuk media yaitu televisi yang menayangkan berbagai hal mulai dari hiburan, informasi, dan iklan. Film dapat dikelompokan pada :

· Film Cerita

Film cerita adalah jenis film yang mengandung cerita lazim ditayangkan diTV. Cerita yang diangkat menjadi topik film bisa berupa fiktif atau berdasarkan kisah nyata.

· Film Berita

Film berita adalah film mengenai fakta, peristiwa yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya berita, maka film yang disajikan kepada masyarakat harus mengandung nilai berita. Adapun kriteria berita adalah penting dan menarik.

· Film Dokumenter

Film dokumeneter didefinisikan oleh Robert Flaherty sebagai karya cipta mengenai kenyataan.

· Film kartun

Film kartun dibuat untuk konsumsi anak-anak.

Melihat jenis-jenis film yang sudah digolongkan seharusnya kita tidak perlu takut dengan kualitas film yang ditayangkan di TV. Akan tetapi dewasa ini banyak sekali tanyangan ditelevisi yang merisaukan masyarakat. Adanya Dampak negatif televisi tidak hanya pada perubahan perilaku, tetapi juga kepada karakter dan mental penontonnya, terutama anak-anak. Stasiun televisi cenderung menyajikan tayangan yang homogen pada pemirsanya. Meski judulnya beragam namun sebenarnya isinya hampir seragam. Beberapa jenis tayangan tersebut di antaranya adalah, sinetron yang kerap dibumbui dengan kekerasan, hedonisme, seks, mistik atau berbagai tayangan infotainment yang disuguhkan dari pagi hingga petang.

Contoh: beberapa anak yang meninggal karena mengikuti gerakan gulat di salah satu tayangan TV. Itu dapat membuktikan bahwa dampak negatif juga dapat melibatkan anak-anak akibat media massa (TV).

v Dampak Media Bagi Remaja

Para ahli komunikasi mengatakan, media massa sangat berpengaruh terhadap pembentukan realitas sosial. Komunikasi massa selalu mempunyai dampak pada diri seseorang atau sekelompok orangakibat dari pesan yang disampaikan kepadanya. Dampak kognitif berhubungan dengan pemikiran, dampak emosional berhubungan dengan perasaan (senang, sedih, marah, sinis dan sebagainya). Dampak kognitif juga mencakup niat, tekad, upaya, dan usaha yang berkecenderungan diwujudkan menjadi suatu kegiatan. Media massa tidak hanya memiliki dampak langsung terhadap individu, tetapi juga mempengaruhi kebudayaan dan pengetahuan kolektif serta nilai-nilai di dalam masyarakat. Media massa menghadirkan perangkat citra, gagasan dan evaluasi yang menjadi sumber bagi audience nya untuk memilih dan menjadikan acuan bagi pelakunya

Remaja putri sering menjadi sasaran baik sebagai model maupun target pasar dari iklan produk kecantikan yang ditawarkan. Banyak model-model iklan yang ditampilkan adalah remaja, hal ini dilakukan untuk menarik remaja lainnya untuk meniru penampilan model iklan yang sama-sama berusia remaja. Produk yang ditawarkanpun sengaja dilabelkan seolah-olah khusus untuk remaja yang aktif, cantik, dan trendy. Sebagai target pasar, remaja sangat potensial sebagai konsumen, karena dalam usia remaja, perasaan selalu ingin tampil menarik lawan jenis (masa pubertas) sangat mendominasi kepribadiannya. Sehingga remaja putri, berlomba-lomba membeli produk yang ditawarkan untuk tampil cantik dan menarik ala model, untuk menunjukkan eksistensinya didepan remaja pria.

Selain iklan, sinetron-sinetron dan telenovela yang temanya kebanyakan adalah tentang kehidupan keluarga, perkawinan, perselingkuhan dan percintaan, dalam realitasnya, nyaris jarang menampilkan sosok perempuan yang digambarkan secara positif. Perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasrah dan menderita dihantam berbagai persoalan, tidak berdaya, menunggu dilamar laki-laki kaya atau sebagai mertua dan ibu tiri yang jahat. Jarang sekali perempuan digambarkan sebagai sosok yang berani, mandiri, dan tidak bergantung pada pihak lain terutama laki-laki. Dalam sinetron-sinetron yang targetnya ditujukan kepada remaja ABG (Anak Baru Gede), pesan-pesan yang disampaikan dalam sinetron hanya berputar tentang masalah percintaan dimana sering ditampilkan sosok remaja putri yang berusaha menarik perhatian pria pujaannya.

v Teori Kultivasi

Dalam ilmu komunikasi massa, teori yang bisa menjelaskan kaitan antara televisi dengan perilaku kekerasan anak-anak adalah teori kultivasi (cultivation theory). Teori ini pernah dikemukakan oleh Prof. George Gerbner ketika ia menjadi dekan Annenberg School of Communication di Universitas Pennsylvania Amerika Serikat.


Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak kita (baca: anak-anak) tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak anak-anak dengan televisi, anak-anak belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya. Televisi karenanya, mampu menanamkan sikap dan nilai tertentu pada diri anak-anak itu.
Dengan demikian, anak-anak dengan adanya tayangan kekerasan di televisi akan menganggap bahwa kekerasan itulah yang sedang terjadi di tengah masyarakat.
Jadi, anak-anak akan menganggap perilaku kekerasan yang dilakukannya hal biasa saja. Apalagi, anak-anak dalam proses pertumbuhannya sedang dalam taraf meniru.

Dalam ilmu psikologi, anak usia antara 9-10 tahun belum mampu membedakan kenyataan dan fantasi. Usia ini masih rawan untuk nonton televisi sendirian. Akibat rangsangan ini, anak akan mengalami banyak benturan. Tak heran bila ada tayangan-tayangan yang amoral, bila diperkuat oleh realitas di lingkungan tempat dia tumbuh dan berkembang, bisa menjadi perilaku dan menanamkan pemahaman tentang apa yang ia lihat di televisi adalah benar.

Di usia 14-15 tahun, anak masih punya kecenderungan perilaku yang tidak tetap. Setelah melewati proses meniru, mengidentifikasi, dan mengembangkan perilaku pada usia sebelumnya, pengaruh yang diterimanya sejak kecil lambat laun tertanam sedikit-sedikit.

Dampak positif juga dapat diberikan oleh media massa kepada masyarakat (Anak-anak,remaja, dan orang dewasa) seperti:

v Belajar melalui media massa

Pengaruh media massa terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih & intensitasnya semakin tinggi. Padahal orangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi & mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya. Dalam seminggu anak menonton TV sekitar 170 jam. Apa yang mereka pelajari selama itu? Mereka akan belajar bahwa kekerasan itu menyelesaikan masalah. Mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan berolahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebaya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain.

Media massa sebagai salah satu sumber belajar bagi anak-anak tentu memiliki dampak baik positif maupun negatif.

Lihat saja media cetak seperti majalah anak dan majalah remaja yang kian banyak dan mudah didapatkan di kios-kios. Dampak positifnya dapat membantu minat baca anak maupun remaja terhadap kebutuhan informasi. Dan ini cukup membantu peningkatan baca untuk tahun-tahun ke depannya. Sayangnya, arus deras informasi dari banyaknya media massa tidak sedikit yang memberi dampak negatif. Bacaan yang sifatnya ‘menjerumuskan’, bahkan tayangan-tayangan tertentu bisa jadi tidak mendidik anak.

Media massa seharusnya bermanfaat dan menjalankan fungsinya mendidik bukan hanya memberikan hiburan dan sangat didominasi unsur komersil. Saat ini ada juga media massa yang menyediakan ruang untuk anak berkreasi dan mengembangkan bakat serta minatnya. Orang tua dan guru pun perlu menjalin komunikasi yang efektif untuk menjadikan media massa sebagai salah satu sumber belajar. Misalnya, disekolah mempelajari teori suatu mata pelajaran, aplikasinya dengan mengamati informasi di media massa lalu didiskusikan kembali di sekolah. Orang tua juga perlu memilih media massa yang bisa mendidik anaknya. Bahkan orang tua bisa ikut memberikan motivasi pada anak untuk mengekspresikan dirinya melalui karya-karya cemerlang di media massa. Misalnya saat ini ada rubric anak di media massa yang menerima karya puisi anak atau lukisan anak dan dimuat di surat kabar tersebut. Selain sebagai sumber belajar, media massa dapat lebih luas mengembangkan fungsinya sebagai ruang anak berkarya dan mengembangkan dirinya kearah yang lebih baik.

Adapun dampak positif lain dari media massa terhadap kaula muda adalah dengan adanya televisi masyarakat jadi lebih mudah untuk memperoleh informasi secara lengkap dan cukup cepat walaupun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal kita. Seperti informasi perkembangan teknologi dan ekonomi di daerah Kalimantan bisa kita peroleh melalui siaran berita televisi ketika kita tinggal di Bandung. Selain itu dengan televisi dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah melalui suara pemirsa atau mengawasi kebijakan pemerintah sebagai watch dog yang juga dilakukan oleh media massa. Dengan TV kita dapat memperoleh kebijakan dari pemerintah kepada masyarakat mengingat jangkauan dari TV yang cukup luas. Televisi juga bisa digunakan masyarakat untuk memperoleh hiburan dengan acara hiburan yang ditayangkan oleh media massa TV. Dengan TV juga,masyarakat bisa mengetahui suatu tindakan penyimpangan sosial yang kurang baik yang di tayangkan lewat tayangan berita kriminal dan lain-lain.

Maka dampak positif itu memang diharapkan terjadi dan diharapkan bisa membantu dan juga mempermudah manusia dalam perolehan informasi dan kegiatan komunikasi secara efisien dan cepat sesuai dengan kebutuhan manusia yang semakin menginginkan kemudahan.

BAB III

KESIMPULAN

Televisi, sebagaimana yang pernah dicermati oleh Gerbner, dianggap sebagai pendominasi "lingkungan simbolik" kita. Sebagaimana McQual dan Windahl (1993) catat pula, teori kultivasi menganggap bahwa televisi tidak hanya disebut sebagai jendela atau refleksi kejadian sehari-hari di sekitar kita, tetapi dunia itu sendiri.

Kalau kita mau menyadari bahwa TV dapat memberi banyak dampak bagi anak kita, orangtua sebaiknya memperhatikan beberapa hal. Seperti: Orangtua harus mencermati informasi dan pengetahuan yang ditawarkan TV kepada anak; Berapa jam anak kita sebaiknya menonton TV dalam seminggu.

Orangtua pun perlu memahami secara menyeluruh posisi TV dalam keluarga. Apakah TV menjadi furnitur sentral di rumah kita? Apakah TV hanya dihidupkan sesaat, sewaktu rumah sepi, untuk menyaksikan acara tertentu saja. Atau TV dinyalakan sepanjang hari?.

Untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif buruk dari televisi tentunya tidak dapat didiamkan begitu saja. Dibutuhkan sebuah kemampuan untuk menyikapi media ini dengan bijaksana. Tapi bagaimana mungkin masyarakat dapat bersikap kritis terhadap media jika masyarakat tidak diajarkan bagaimana caranya. Hal ini juga menjadi salah satu kelemahan kurikulum pendidikan di Indonesia. Pendidikan mengenai media hampir terlupakan. Agenda pendidikan media sama sekali belum diperhitungkan oleh penyelenggara negara, khususnya pemegang otoritas pendidikan. Padahal media memiliki kekuatan untuk menjalankan hidden curriculum (kurikulum terselubung) baik yang konstruktif maupun destruktif.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Drs. Elvinaro Ardianto, M.Si. dan Dra. Lukiati Komala Erdinaya, M.Si.2004. ”Komunikasi Massa suatu pengantar” Bandung : Simbiosa Rekatama Media
  2. http://www.kipde-ketapang.go.id
  3. http://ekawenats.blogspot.com
  4. http://koalisi-ham.org
  5. http://hildaku.blog.com
  6. http://nurudin.multiply.com
  7. http://www.kidia.org
  8. http://www.pikiran-rakyat.com
  9. http://allaboutmylife.wordpress.com

Meningkatkan Motivasi Karyawan

Mata Kuliah : Manajemen Lembaga Informasi



Artikel Meningkatkan Motivasi Karyawan

Hasil penelitian Profesor Keneth A. Kovach dari George Mason University menunjukkan bahwa urutan penyebab naiknya motivasi kerja menurut para karyawan pada tahun 1995 adalah minat terhadap pekerjaan yang menarik, penghargaan penuh untuk pekerjaan yang dilaksanakan, pengakuan (merasa dilibatkan), dan upah yang baik. Sementara yang dipandang dapat meningkatkan motivasi kerja menurut persepsi para manajer adalah upah yang baik, jaminan pekerjaan, promosi jabatan, kondisi pekerjaan, dan pekerjaan yang menarik. Terjadinya perbedaan persepsi itu tentu saja akan menimbulkan pengambilan kebijakan yang salah dari para manajer khususnya dalam memperlakukan karyawannya dalam upaya peningkatan kinerja organisasi secara keseluruhan.

Berpijak pada hal tersebut, saya kemudian berfikiran untuk mencoba mengurutkan faktor-faktor yang dapat meningkatkan motivasi kerja para pegawai. Seperti yang diketahui meningkatkan motivasi kerja seorang pegawai negeri merupakan pekerjaan yang sulit dibandingkan dengan meningkatkan motivasi kerja pegawai swasta. Hal itu wajar mengingat masih lemahnya mekanisme reward and pusnishment yang dimiliki oleh instansi pemerintah. Artinya apa, jika seorang pegawai negeri memiliki prestasi yang baik atau mungkin seorang pekerja yang rajin, maka belum tentu dia akan mendapatkan imbalan yang pantas, baik melalui promosi, insentif, atau sekedar perhatian dari atasan. Sedangkan jika dia merupakan pegawai yang kualitasnya rendah, malas bekerja, atau malah sering bolos kerja, kadang tidak ada hukuman yang diberikan padanya. Tentu saja kondisi-kondisi tersebut cenderung menyebabkan seorang pegawai berkualitas menjadi stress, frustasi, dan lebih gawat lagi akan turut menjadi malas atau bermotivasi kerja yang rendah.

Untuk menanggulangi hal tersebut, saya akan terapkan suatu sistem kerja yang baru pada beberapa kriteria jabatan para pegawai, baik pejabat struktural, pejabat fungsional, maupun karyawan biasa. Tentu saja hal itu akan memerlukan waktu yang cukup lama dan harus dilakukan secara intensif dengan perbaikan dalam semua aspek. Walaupun demikian akan saya coba sajikan satu persatu tanpa klasifikasi profesi terlebih dahulu. Ini penting guna mendapatkan tindakan cepat bagi pengambilan kebijakan yang dilakukan.

Untuk mencapai tujuan meningkatkan motivasi kerja para pegawai, saya mengadopsi hasil penelitian Prof. Kovach di atas yang saya gabungkan dengan teori saya yaitu:

· Pemenuhan prestasi: terdiri dari pengakuan, pekerjaan, kemajuan, tanggungjawab, aktualisasi diri, dan kelangsungan hidup.

· Lingkungan kerja yang kondusif meliputi: kondisi kerja, kebijaksanaan, birokrasi, hubungan kerja, rekruitmen, nilai-nilai kelompok kerja, dan gaji/insentif.

Selain itu, dalam meningkatkan motivasi kerja para pegawai dibutuhkan juga beberapa faktor yang meyokong mereka, seperti:

· Adanya atasan yang bijaksana

· Pembagian dan pendelegasian tugas yang jelas

· Pemberian wewenang dan tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan

· Sarana dan prasarana kantor yang memadai

· Unit kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan

· Memiliki kesempatan untuk beraktualitas diri, membangun hubungan emosional yang harmonis antar karyawan

· Pekerjaan yang menarik dan menantang kemampuan intelegensia

· Penghargaan penuh untuk pekerjaan yang melaksanakan dengan baik

· Diadakannya kesempatan untuk belajar

· Mendapatkan honor yang sesuai, dan adanya kesempatan untuk dipromosikan oleh pimpinan.

Faktor-faktor yang saya jabarkan di atas memang merupakan hal-hal mendasar, akan tetapi memegang peranan yang sangat vital. Pemenuhan hal-hal mendasar tersebut saya yakini sebagai langkah pertama dan fondasi utama agar para karyawan bekerja dengan giat.

Anilis Kasus dari Sudut Pandang Psikologi Komunikasi

Selain Menipu Her, juga Memasok Wanita

Indramayu, (PR).-

Her (39), anggota Demsus (Detasemen Khusus) 88 Anti teroris Mabes Polri gadungan, ternyata tak hanya menipu warga yang ingin menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Dari hasil penyelidikan Polres Indramayu, lelaki yang merupakan mantan staf KCD Disdik Kec. Pamanukan, Kab Subang itu, juga memasok wanita untuk dijadikan geisha di Jepang.

Dalam kegiatan itu, Her diduga berhubungan dengan sindikat kejahatan terorganisasi di Jepang yang disegani di dunia yakni, Yakuza. Lelaki yang tertangkap di Jakarta karena laporan penipuan PNS, diduga jadi mata rantai perdagangan wanita (trafficking) di Asia yang digerakan Yakuza.

”Selain menipu warga untuk PNS dia juga menipu wanita untuk jadi geisha di Jepang,” ujar Kalakhar (Kepala Pelaksana Harian) Satreskrim Polres Indramayu, Iptu Endang Koswara.

Kegiatan trafficking Her terungkap lewat penyidikan Satreskrim Polres. Kebetulan, Selasa (27/3), ada enam wanita datang ke mapolres untuk mengadukan ulah Her.

Para wanita itu datang setelah mendengr kabar Her di tangkap polisi di Jakarta. Dalam pengaduannya, mereka mengaku direkrut Her, tapi kabur sebelum berangkat ke Jepang.

Seperti deberitakan ”PR”, Her mangaku sebagai salah satui pimpinan regu Densus 88 Antiteroris Mabes Polri. Ia dibekuk jajaran Reskrim Polres Indramayu, setelah terungkap menipu enam warga Indramayu dengan alasan akan diangkat menjadi PNS, Her mengutip uang antara Rp 10 juta sampai Rp 25 juta. Sedangkan untuk biaya ke Jepang, ia mengutip Rp 2 juta sampai Rp 5 juta.

Reputasi Her sebagai penipu cukup profesional. Sebelumnya, tahun 2006, lelaki penipu itu tenyata sempat menjadi warga teladan di Kec. Sindang tempatnya tinggal bersama istrinya.


Anilis Kasus dari Sudut Pandang Psikologi Komunikasi

Faktor-faktor personal yang mempengaruhi perilaku manusia

berpikir atau berakal budi (reason).

· Dari faktor biologis : kemungkinan adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh Her, selain dibentuk oleh lingkungan tapi juga bisa berasalal dari warisan genetik keluarganya tapi dalam artikel ini tidak di jelaskan mengenai latar belakang keluarga Her.

· Dari faktor emosi :

Her à mempunyai sifat yang bertolak belakang seperti kita ketahui pada wacana di atas Her, adalah seorang penipu yang cukup profesional dan di lain sisi Her, adalah seorang warga teladan di tempat ia tinggal bersama istrinya.

Korban Her à ke enam wanita tersebut memiliki emosi yang tidak terkendali karena, mereka merasa tidak percaya diri dengan kemampuan yang ada pada diri meraka. Di lain satu hal meraka juga tidak ingin berusaga untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan.

· Dari faktor kepercayaan :

Her à Her, mempunyai kepercayaan yang rasional dan irrasional

Korban Her à kepercayaan sugesti otoritas

· Dari faktor sosial : keterpaksaan masyarakat di Indonesia untuk melakukan sesuatu hal karena, dorongan untuk bertahan hidup.

· Dari faktor lingkungan : mungkin dari faktor sosial di Indonesia sudah melekatnya latar belakang masyarakat Indonesia yang menginginkan segala sesuatu dengan instan dan menginginkan hasil yang maksimal dengan usaha yang minimal(RenniFemy)